My Short Stories


EMAK
Cerpen oleh :Fransisca S
Publised by: Suara Pembaruan, Minggu 19 November 2000


Di dalam sebuah kamar berukuran dua kali dua, tidur wanita setengah tua diatas dipan yang cuma beralas kasur tipis. Sinar bulan yang menerobos dari jendela berteralis, membuat kamar kecil itu jadi sedikit lebih terang. Di pinggir daun pintu, seorang gadis belasan tahun menatap wanita itu dengan penuh kasih.
“Selamat tidur, Mak,” bisiknya pelan penuh emosi.
Masih terbayang jelas ketika emaknya mengeluhkan dadanya yang sakit beberapa hari yang lalu. Dipijatnya emaknya sambil membujuk supaya berobat ke dokter. Tetapi emaknya memang keras kepala,”Ah, paling-paling masuk angin biasa. Buat apa ke dokter? Ngabis –ngabisin duit saja. Minum jamu buatan sendiri juga sembuh! Sekarang ini lagi zaman hidup susah, kita harus pandai-pandai berhemat.”
Angin yang bertiup membuat gorden tipis di jendela berteralis itu bergerak-gerak. Saat seperti itu yang ingin dilakukannya Cuma memijat emaknya sampai tertidur. Kemudian ia pun ikut tidur di sisi emaknya, sambil memeluknya. Tetapi tidak untuk malam ini. Ia harus pergi.
Diselimuti emaknya. Wanita itu menggeliat sebentar, lantas meringkuk ke dalam selimut. Gadis itu menelan ludah. Pahit rasanya. Perasaan takut itu muncul lagi. Dirabanya dadanya yang gelisah. Pelan-pelan ia keluar dari kamar emaknya sambil menutup pintu. Takut membangunkan emaknya.
Di kamarnya, ia berganti baju dan berias. Sesaat kemudian ditatapnya pantulan dirinya dari cermin. Seperti bukan bayangan dirinya. Bedak tebal, lipstick warna merah menyala, kaus ketat dan rok mini beludru. Siapakah dia?
Bayangan itu tak tampak lagi seperti gadis berusia belasan tahun. Diambilnya sepasang sepatu hak tinggi satu-satunya peninggalan almarhum ibunya dan dipakainya. Agak kebesaran tapi cukup muat di kakinya. Kemudian bergegas ia keluar rumah.
Di luar, dilihatnya sekilas langit kelam yang kosong tanpa bintang. Kemudian ia pun menyusuri gang kumuh yang masih terlihat basah disiram hujan. Matanya juga basah karena perasaan gelisah.
Sambil melangkah, ia teringat ayahnya.
“Ayah! Ayah! Ayah jangan pergi!” teriaknya sambil meronta ronta dalam gendongan emaknya.
Ayahnya mendekatinya, mencium keningnya.”Titi jangan nakal-nakal, ya?”
Di sampingnya berdiri Tante Isti, istri baru ayahnya, memandang dengan sinis,”Ayo Mas, nanti kita ketinggalan pesawat!”
“Ayah jangan pergi! Titi janji tidak nakal lagi. Titi nurut sama tante Isti.”
Namun ayahnya hanya melambaikan tangannya, kemudian masuk ke dalam taksi bersama tante Isti.
******
Kini kakinya melangkah di trotoar jalan. Jalanan lengang, hanya satu dua mobil yang lewat. Sebuah sedan mengurangi kecepatannya menyejajarinya, kemudian membuka jendela kaca mobil,”Kemana? Yuk saya antar!” muncul pria setengah baya dari balik kemudi.
Diliriknya pria itu sekilas.
“Ayo masuk saja, Jangan malu-malu. Saya antar kok.”
Dibiarkannya saja pria itu.
“Ayolah… jangan jual mahal! Berapaan sih?”
“Eh…Brengsek! Ngomong lagi, saya teriak nih!”
“Huh, dasar! Sok jual mahal!” Mobil sedan itu pun melesat meninggalkannya, menembus malam.
Kenangan itu muncul lagi di kepalanya. Sejak ayahnya pergi, ia tinggal bersama emaknya di bekas rumah kontrakan ayahnya. Bulan-bulan pertama, ayahnya masih mengirimkan uang walau hanya sebulan sekali. Lama kelamaan mulai jarang dan akhirnya berhenti. Akhirnya mereka harus pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil dan lebih murah. Ia pun menggantungkan hidup dari penghasilan emaknya sebagai penjual jamu. Jamu racikan emaknya sangat laris di kampung sebelah di kompleks lokalisasi itu.
Pagi-pagi sekali, emaknya meracik jamu. Ketika dia bersiap-siap berangkat ke sekolah, emaknya juga siap menjajakan jamu.
“Kok ayah nggak pulang-pulang?” tanyanya suatu ketika kepada emaknya yang sedang bersiap-siap menjajakan jamu.
“Ayahmu pasti sedang sibuk.”
“Membalas surat saja harus menunggu nggak sibuk?”
“Sudahlah Ti, mandi saja sana, lalu berangkat ke sekolah!”
“Tadi Titi mimpi ketemu ayah! Kangen sama ayah!”
“Ayah….ayah! Ayahmu itu brengsek, tahu!” emaknya kalap,”Dulu ayahmu berjanji di depan almarhumah ibumu untuk selalu menjagamu. Emak saksinya, tapi lihat, belum setahun ibumu meninggal, ayahmu langsung berubah.”
“Semuanya berantakan gara-gara ayahmu mengawini tante Isti. Dia yang membujuk ayahmu supaya meninggalkan kamu karena tidak ingin mengurus anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Perempuan itu yang membuat hidupmu jadi sengsara.”
“Emak jahat! Ayah bukan orang brengsek!” dia menangis tersedu-sedu di sudut kamar.
“Tapi ini kenyataan, Titi!”
Dia tidak pernah tahu, mengapa setiap kenyataan harus selalu melukai hatinya. Bahkan sampai sekarang pun ia masih belum mengerti juga.
Emak, dia membatin. Selama ini emaklah yang menjaga dan melindunginya. Hanya emak tempat dia bergantung. Kalau bukan kepada emak, lantas kepada siapa lagi? Hampir setiap malam menjelang tidur, emak selalu menceritakan dongeng untuknya. Bahkan sampai sekarang pun emak masih sering bercerita walau bukan dongeng lagi, tetapi tentang kehidupan sehari – hari.
“Belajar yang rajin Ti, emak selalu ingin melihatmu jadi ‘orang’. Jangan kayak tante-tante di kompleks sebelah, walaupun sebenarnya berkat mereka juga kita bisa hidup,”emak menasehatinya.
“Kenapa berkat mereka? Kan jamu emak memang laris?”
“Pokoknya yang penting sekarang ini sekolah! Sebentar lagi kamu masuk SMA! Gunakan waktumu sebaik-baiknya!”
“Tapi Mak, sebenarnya Titi ingin bekerja saja.”
“Mau kerja? Tamatan SMP jaman sekarang bisa jadi apa?”
“Kalau Titi kerja, Emak tidak usah kerja keras lagi.”
“Semua Emak lakukan demi kamu, Titi,” potong emaknya,”Nggak usah mikir macam-macam. Nanti kalau sudah tamat SMA baru bantu Emak. Sekarang tugas kamu Cuma satu: belajar!”
Betapa besar pengorbanan emak, daripada ayahnya yang tidak pernah memberi kabar, apalagi bantuan. Sering ia tidak bisa mengerti mengapa emak begitu baik, padahal emak hanyalah seorang pembantu yang sudah lama ikut keluarganya.
“Emak tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Suami emak meninggal waktu emak masih muda. Jadi Cuma kamulah yang emak punya. Emak banyak menaruh harapan kepadamu, karena emak sudah menganggapmu seperti anak sendiri,” hanya itu alasannya.
******
Langkahnya kini menyusuri kafe-kafe di sepanjang trotoar yang dipenuhi orang-orang kesepian yang melewatkan malam. Kabut asap rokok berhembus keluar dari sebuah pintu kafe yang terbuka. Terdengar lagu dari dalam.
Langkahnya terhenti ketika sampai di depan sebuah hotel murahan. Sekumpulan wanita berbaju seksi di depan hotel melihat ke arahnya. Dia mengenali salah satunya, tante Lusi. Wanita itu melambaikan tangan,”Ti, langung saja ke kamar enam belas. Sudah ada yang menunggu!” katanya tanpa basa-basi.
Dia menganggukkan kepalanya.
Di depan tangga, dihembuskannya napas. Masih terdengar cekikikan wanita-wanita itu. Tiba-tiba kakinya jadi berat dan rasanya tak bisa ia gerakkan. Hatinya menjerit minta tolong agar kakinya berhenti melangkah. Tetapi, ia teringat emaknya.
Emaknya terkulai lemas di dipan. Emaknya menolak ke dokter,”Cuma masuk angin biasa, kok. Mendingan uangnya untuk mendaftar SMA saja.”
“Ya, tapi kesehatan emak lebih penting. Kalau emak sembuh, kan bisa ngumpulin uang lagi. Lagi pula pendaftaran baru dibuka dua minggu lagi.”
“Sudahlah jangan membantah emak lagi. Nanti pulang sekolah belikan saja obat yang kemarin kamu beli. Udah rada mendingan kok.”
******
Sesampainya di ujung tangga, ia mematung menatap deretan kamar-kamar di hadapannya. Jantungnya berdetak keras. Matanya berkunang-kunang, bukan karena capek, tetapi takut. Keringat dingin mengalir deras. Kaus ketatnya membasah.
“Kebetulan tante punya langganan yang suka sama ‘daun muda’. Namanya om Toni,”kata tante Lusi.”Kalau soal duit mah, om Toni gak ternah pelit!”
“Maksud tante?” tanyanya tak mengerti pada awalnya.
“Ah, kamu! Di mana lagi bisa nyari uang dengan cepat dan gampang? Sudahlah! Terima saja tawaran tante. Om Toni baik kok orangnya. Apalagi emak kamu sakit kan? Kalau emak kamu sakit yang susah juga kita-kita di sini. Sudah dua hari kita gak minum jamu emakmu!”
“Tapi tante…”
“Sudahlah! Kalau mau minjem duit, tante juga gak ada. Kita disini juga hidup pas –pasan. Tante Cuma bisa ngasih tau gimana cara ngedapetin duit dengan cepat dan gampang.”
Kaki langsingnya mulai menelusuri pintu-pintu bernomor di sepanjang koridor. Rasanya berat, tetapi kaki itu terus melangkah. Delapan belas….Tujuh belas… jantungnya berdetak sangat cepat. Akhirnya sampai juga ia di depan pintu bernomor enam belas. Ia seperti di dorong menuju lubang tanpa dasar. Kepenatan muncul di kepalanya, menguap naik ke ubun-ubun. Sampai-sampai ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Digerakkan tangannya yang rasanya kaku sekali untuk mengetuk pintu kamar. Tiba-tiba wajah emaknya yang tulus berputar-putar mengelilinginya. Betapa kecewa Emak, bila tahu apa yang akan dilakukannya. Namun, terbayang lagi emaknya yang terbaring lemah.
Tok…tok…tok…. Akhirnya tangan itu mengetuk. Seorang pria setengah baya muncul dari balik pintu. Berkumis dan setengah botak. Matanya jelalatan melihat tubuh berbalut kaus ketat yang basah oleh keringat dingin.
“Masuk!” perintah pria itu.
Dia pun masuk ke dalam kamar dan pintu di tutup. Aroma tubuh laki-laki itu menyemburkan parfum murahan yang sangat tajam hingga membuatnya yang memang dari tadi sudah mual ingin muntah. Wajah pria itu begitu dekat dengan wajahnya. Jantungnya seolah-olah ingin meloncat keluar dari tubuhnya. Tenggorokannya kering. Ia sebenarnya ingin berteriak, tetapi tak mampu. Tercium bau minuman keras dalam setiap hembusan napas laki-laki itu yang menyembur tepat di wajahnya.
******
Hawa dini hari yang dingin masuk melalui jendela dan menggerak-gerakkan gorden. Udara dingin yang menembus selimut dan membalur tubuhnya membuat wanita tua itu terbangun dari tidurnya. Rasa sakit dan sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Rasanya sakit setiap kali ia menarik napas.
“Titi,” panggilnya lemah.
“Titi….” Panggilnya lagi sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.
Tetapi tubuhnya terlalu lemah. Hanya tangannya yang menggapai ke sana kemari di udara. Rasa sakit di dadanya begitu membuatnya tersiksa.
“Titi kamu dimana, emak haus.”
Tidak ada jawaban.
“Titi…”
Yang ada hanya sunyi dan sepi.
“Titi…” panggilnya berulang-ulang. Kini suara yang keluar hanya tinggal rintihan.
“Titi…” akhirnya hanya bisikan-bisikan lemah terdengar.
Tak lama kemudian bisikan-bisikan itu menghilang. Semuanya jadi sepi. Mata wanita itu tertutup rapat, seperti orang yang sedang tidur nyenyak. Dadanya yang dari tadi naik turun menahan sakit, kini diam tak lagi bergerak.
Di luar udara semakin dingin.
******
Mata dan wajahnya penuh air mata. Di sebelahnya om Toni tidur tengkurap dengan dengan dengkuran keras. Hatinya terluka. Batinnya menangis dalam gelap. Di langit-langit kamar terbayang wajah emaknya yang kecewa. Hatinya remuk. Tetapi seketika diingatnya lagi berapa bayaran yang akan dia terima. Dua Ratus Ribu Rupiah.Jumlah yang tidak terlalu banyak di jaman susah ini. Tetapi pasti cukup untuk biaya ke dokter sekaligus untuk membeli formulir pendaftaram SMA. Hatinya jadi sedikit terhibur.
Ia rela mengorbankan apa saja demi emak tersayangnya. Hanya emak yang dia miliki di dunia ini. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan emaknya sakit? Hatinya kini benar-benar terhibur, membayangkan emaknya yang sudah sehat kembali. Sebentar lagi emak akan sembuh kembali dan hari-hari akan seperti dulu lagi. Bangun pagi-pagi, membantu emak meracik jamu, lantas pergi ke sekolah.
Ah… Emak sebentar lagi sembuh, bisiknya dalam hati

Diterbitkan Harian SUARA PEMBARUAN, Minggu 19 November 2000


DI DERMAGA TUA
BY: FRANSISCA S
Publish on Femina no.38 - 2000

Di atas papan dermaga, duduk sepasang manusia yang sedang memandang senja sambil bercakap-cakan dan membiarkan sisa-sisa hangatnya cahaya matahari memandikan tubuh mereka.
Senja membuat langit yang berwarna jingga membiaskan cahaya keemasan dan menyepuh permukaan laut. Bilur-bilur keemasan berpedar-pendar dari permukaan laut yang bergolak tenang. Beberapa kapal yang bergerak menjauhi dermaga tersiram warna emas. Sayu-sayup terdengar bunyi peluit kapal di kejauhan bercampur bunyi deru ombak.
“Kamu tugas di Amsterdam berapa lama?” tanya yang wanita sambil melempar kerikil ke gulungan-gulungan ombak kecil. Gulungan-gulungan air iu kemudian pecah menjadi buih menjadi cipratan-ciptratan kecil ketika menghantam dak beton dermaga.
“Dua tahun mungkin,” jawab yang pria,”Kalau semuanya berjalan lancar.”
“Lantas kekasihmu bagaimana? Kamu kawini dulu atau kamu tinggalkan?”
“Menurutmu?”
“Lho… ditanya, kok malah balik nanya?”
“Entahlah….” Suara pria itu menggantung. Matanya menerawang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggunya,”Sebenanya aku tidak terlalu cocok dengannya.”
“Kamu masih bersamanya kan?”
“He eh...” sambil mengangguk ia.
“Tapi, jangan –jangan mau kamu putusin.”
“Hmmmm….mungkin juga sih” jawabnya tak yakin.
“Dasar pria! Dimana-mana sama saja! Sebenarnya kamu sudah tidak cocok dengannya atau sudah tidak membutuhkannya lagi?” tanya sang wanita dengan tatapan sinis.
“Kenapa sih kamu selalu mempunyai pikiran kalau pria selalu seperti itu?”
“Seperti apa? Seperti kamu?”
“Aku memang sudah tidak cocok lagi dengannya!”
“Tidak usah membela diri!”
“Aku tidak membela diri! Kalau sudah tidak cocok, mana bisa terus dipaksakan?”
“Jadi kamu tinggalkan begitu saja? Dia kan juga punya perasaan! Bagaimana jika ternyata dia masih cinta padamu?”
Pria itu menghembuskan napasnya, mencoba membuang segala kegundahan di hatinya. Entah sampai berapa lama lagi dia mampu menahan perasaan cinta pada wanita yang duduk di sampingnya ini. Entah berapa banyak lagi wanita yang harus dipacarinya demi untuk mendapatkan sedikit kebebasan dari perasaan seperti ini. Selama ini dia memang cukup berhasil menyembunyikan perasaannya lewat perdebatan-perdebatan panjang seperti ini. Sebuah terdebatan yang tak ada ujung pangkalnya.Terlalu sering mereka memperdebatkan hal-hal seperti tentang perasaan, hidup dan tetek bengek lainnya.
“Jangan begitu, aku juga punya perasaan kok!”
“Emangnya pria punya perasaan?”
“Hey, jangan sinis begitu dong! Aku hanya belum menemukan wanita yang benar-benar cocok denganku saja!”
“Tapi jangan mempermaikan wanita seenaknya!”
“Aku tidak pernah mempermainkan wanita kok!”
“Tidak pernah? Betapa seringnya kamu member harapan pada wanita, lantas kalau wanita itu sudah jatuh cinta denganmu kemudian dengan tega pula kamu meninggalkannya dengan alasan sudah tidak ada kecocokan?”
“Tapi…”
“Ah… sudahlah!” kata wanita itu kesal sambil berdiri dan mengambil tas hitam saksofonnya. Dirinya tiba-tiba merasa kesal karena merasa seperti sedang dipermainkan juga oleh pria itu. Ditiupnya saksofon berwarna keperakan itu.
Terdengar sebuah Misty – lagu kesayangan wanita itu.




Pria itu menatapnya dengan ekspresi datar. Sudah terlalu sering ia melewatkan senja seperti ini bersama wanita itu, saksofonnya dan lagu yang itu itu lagi Misty, walau selalu saja ada improvisasi yang diselipkan setiap kali ia memainkannya. Terkadang, pria itu merasa bahwa seharusnya ia bosan dengan semua itu. Barangkali memang ia sudah bosan dengan Misty dan permainan saksofon wanita itu. Tapi, apakah ia bisa bosan dengan wanita yang sedang memamainkan saksofon dan memadukkannya dengan senja dalam sebuah Misty?
Sering ia mencoba untuk bisa bosan pada wanita itu dengan memacari wanita-wanita lain. Tapi bukannya bosan, malah ia jadi mati-matian merindukan wanita itu dan akhirnya malah jadi bosan mati-matian dengan wanita yang sedang dipacarinya. Sering juga muncul di benaknya, kenapa ia tidak berpacaran saja dengan wanita itu. Tapi apakah wanita itu juga mencintainya? Bagaimana bila wanita itu menolaknya? Bila ditolak, hatinya mungkin akan sakit sekali.
Langit mulai kelabu dengan sapuan ungu muda yang berserakan di mega-mega. Lampu lampu merkuri di sepanjang dermaga mulai dinyalakan. Cahaya jingga keemasan sudah hilang seiring dengan lenyapnya matahari di balik cakrawala.
Wanita itu terlihat sedang menghayati permainan saksofonnya. Matanya terpejam rapat ketika meniup nada-nada tinggi. Terkadang dia bangga pada kemampuannya saat mengimprovisasikan lagu Misty menjadi sebuah permainan yang panjang dan indah. Pernah dia berharap seandainya juga punya kemampuan mengimprovisasikan sepotong cinta di hatinya menjadi potongan-potongan harapan yang bisa jadi kenyataan. Tapi apakah mungkin ia mengimprovisasikan cintanya pada pria yang sedang duduk di hadapannya ini? Seorang pria yang menyukai banyak wanita? Lagi pula, apakah pria itu juga mencintainya?
Wanita itu sudah menyelesaikan lagunya dan kini duduk lagi dengan tenang sambil mendekap saksofonnya.
“Kamu tidak mendengarkan permainanku!”
“Lho, dari tadi kan aku duduk disini. Bagaimana mungkin aku tidak mendengar permainanmu?”
“Tapi wajahmu terlihat tanpa ekspresi! Tidak seperti orang yang menghayati musik!”
“Jadi harusnya bagaimana ekspresiku? Meringis sambil melotot?” Pria itu terkekeh.
“Ya… setidakmya seperti orang yang sedang menikmati musiklah!”
“Kamu kenapa sih? Sepertinya sedang kesal kepadaku ya?” tanya sang pria dengan ekspresi tidak mengerti.
“Aku tidak sedang kesal kepadamu!” bantah wanita itu sambil menatap pria yang duduk di sebelahnya itu.
Sejenak mereka saling bertatapan. Dan, tatapan itu membawa mereka kembali meraba-raba sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap. Sekeping perasaan cinta sempat muncul sebelum akhirrnya ternggelam oleh perasaan lainnya. Entah dari mana asalanya tiba-tiba muncul perasaan yang membuat mereka jadi malu.
Akirnya mereka sama-sama memandang ke bawah, menatap air yang berkecipak di dinding beton. Mereka duduk dalam kebisuan, sibuk dengan perasaan masing masing sambil berusaha menenangkan diri dari gejolak yang baru saja dirasakan.
Dan kini, sebuah keputusan muncul dalam pikiran wanita ini. Selama ini ia mampu menahan segala perasaan dan terus bersabar sambil berharap suatu saat nanti pria itu akan menyadari bahwa ternyata ada sesuatu diantara mereka. Tapi kenyataan berkata lain, kesempatan begitu sedikit memberinya waktu. Pria itu akan segera pergi. Pergi jauh! Dan jangan –jangan malam ini adalah pertemuan mereka yang terakhir kalinya. Bukan tidak mungkin bila di Amsterdam nanti, pria ini akan menemukan seorang wanita yang cocok dengannya kemdian mengawininya dan tidak akan pernah lagi terkenang dan teringat lagi padanya.
Akhirnya wanita itu beranjak dari duduknya dalam kepasrahan,”Ayo pulang!” ajak wanita tu.
Pria itu diam saja tidak menggubrisnya. Jangankan beranjak, menoleh pun tidak ia. Seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya lupa bagaimana cara mengontrol otot-otot tubuhnya untuk bergerak.
“Ayo pulang! Bukankan besok pagi kamu harus sudah di bandara?”
Pria itu seakan baru tersadar, dan menoleh ke arah wanita itu. Sebuah perasaan takut kehilangan terselip di pikirannya karena mencoba berpikir bagaimana rasanya melewatkan hari tanpa wanita itu.
“Apa sih yang sebenarnya mengganggu pikiranmu?” kini wanita itu berjongkok di sampingnya.
“Aku sedang mempertimbangkan…”
“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Putuskan saja pacarmu kalau memang sudah tak cinta lagi,” kata wanita itu tak sabar. Ia ingin cepat-cepat lari dari keadaan yang bisa mengembalikan perasaan sedihnya.
“Bukan itu yang sedang kupertimbangkan!” kata pria itu dengan tampang kesal.
“Lantas apa?”
“Kamu sih langsung memotong pembicaraanku!”
“Maaf deh! Sudahlah, kita pulang saja yuk!”
Pria itu terdiam sejenak sambil menunduk,”Aku Cinta Padamu,” katamya pelan, seolah-olah sedang berbisik.
Bulan kuning pucat muncul dari balik awan. Lampu-lampu merkuri di sepanjang dermaga membuat malam yang seharusnya kelam jadi terang benderang.
Wanita itu sebenarnya mendengar sepotong kata ‘Aku Cinta Padamu’, tapi ia diam saja karena berpikir bahwa jangan-jangan diriya sedang berkhayal.
“Hallo! Hallo! Kamu tidak mendengar kataku tadi!” kata yang pria dengan kening berkerut.
“Apa? Maaf, aku sedang melamun,” jawab sang wanita gelagapan, berpikir bahwa ia telah mengabaikan sesuatu yang dikatakan pria itu.
“Kamu dengar tidak? Tadi, aku mengatakan Aku cinta padamu!”
Sekarang, wanita itu yang terkejut setengah mati!
“Jadi sekarang giliranku yang kamu permainkan. Apakah kamu memang harus menaklukkan seluruh wanita di muka bumi ini?” wanita itu berkata, seolah-olah kepada dirinya sendiri.
“Mengapa kamu mengira ini permainan?”
“Memang itu permainanmu. Membuat wanita jatuh cinta kemudian meninggalkannya!”
“Seperti itukah pikiranmu tentang diriku? Apakah kamu mengerti, selama ini aku gonta ganti pacar hanya supaya tidak selalu teringat padamu.
Wanita itu terdiam, tidak tahu harus bereaksi bagaimana dan berkata apa.
“Mungkin selama ini kamu juga sebenarnya cinta padaku. Tapi mungkin kamu juga kesal dengan kelakuanku yang suka gonti-ganti pacar itu bukan?”
“Dasar! Sok tahu!” Wanita itu mencibir, walau hatinya membenarkan kata-kata pria itu.
Pria itu mendekati wanita itu, menatapya dalam-dalam dan tiba-tiba mencium bibir wanita itu.
Plak!
Sebuah tamparan di pipi kiri si pria itu.
Pria itu terkejut, menggosok-gosok pipi kirinya. Dan tiba-tiba pria itu mencium bibir wanita itu lagi.
Plak!
Kini, pria itu menggosok-gosokkan pipi kanannya.
“Jangan perlakukan aku seperti ini! Tolong katakan apa maumu! Karena…. Karena….” wanita itu berkata terputus-putus dengan bibir gemetar.
“Katakanlah kalau kamu juga mencintaiku dan aku akan menunda keberangkatanku besok!”
“Kamu tidak usah menunda keberangkatanmu!”
“Apa? Jadi kamu ternyata tidak cinta padaku?” tanya pria itu dengan kening berkerut. Padahal dia mulai yakin bahwa wanita itu juga mencintainya.
Wanita itu terdiam dengan perasaan campur aduk. Senang karena ternyata pria itu mencintainya dan sedih karena harus berpisah. Baginya semua itu begitu cepat. Baru saja menemukan cinta, lantas harus berpisah.
Malam jadi semakin dingin ketika angin yang berbau hujan membelai-belai tubuh mereka.
“Kalau begitu, katakan kalau kamu tidak mencintaiku. Aku akan pergi jauh dan tidak akan pernah kembali lagi,” Nada pria itu sekarang penuh dengan keputusasaan.
“Maaf, aku tidak tahu harus berkata apa!” kata yang wanita dengan kegundahan yang amat sangat di hatinya, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan pria itu duduk sendirian di dermaga.
Hujan pun mulai turun rintik-rintik. Dan tubuh pria itu mulai basah oleh air hujan. Tapi rasanya ia sudah tak peduli lagi. Lama juga ia duduk di dermaga sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan perasan yang cukup lelah, akhirnya pria itu beranjak berdiri membalikkan badannya.
Betapa terkejutnya pria itu ketika dilihatnya wanita itu masih berdiri tepat di belakangnya, dengan tubuh yang juga basah oleh air hujan.
“Pergilah besok! Aku akan menyusulmu dan mengatakan Aku Cinta Padamu disana!” kata wanita itu di sela-sela hujan yang mulai deras.
Lantas, mereka pun berpelukan dengan erat.





Dua bulan berlalu dengan lambat. Kini wanita itu duduk di sebuah pesawat Boeing 747 dengan tujuan penerbangan : Amsterdam
Sejak perpisahan mereka, wanita itu jadi sering memikirkan banyak hal-hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya tentang pria itu. Namun yang paling sering diingatnya adalah perdebatan tentang hal-hal konyol hanya untuk menutupi perasaan cinta diantara mereka. Sekarang pesawat yang sedang ditumpanginya membawanya pada pria yang selalu dirindukannya selama dua bulan ini.
Dari jendela pesawat terhampar awan-awan berwarna ungu kehitaman karena langit yang mendung sedang menurunkan titik-titik airnya ke bumi.
Wanita itu memejamkan matanya, mencoba untuk tidur sambil mengenang saat-saat bersama pria yang akan dijumpainya sebentar lagi. Masih segar dalam ingatannya malam di dermaga sebelum perpisahan yang menyiksa itu. Saat itu juga turun hujan di dermaga seperti butiran-butiran permata yang turun saling mendahului jatuh dan pecah berhamburan di tanah.
Rasanya sudah tidak sabar lagi wanita itu bertemu dengan pria yang dirindukannya dan mengatakan ‘Aku Cinta Padamu’.




Di Amsterdam, pria itu menatap sebentuk cincin bertahtahkan berlian yang baru dibelinya. Walaupun telah menguras hampir setengah isi dari tabungannya. Namun, apalah artinya uang bila dibandingkan dengan seorang wanita yang selama dua bulan ini selalu dirindukannya?
Hampir gila dirinya selama dua bulan ini menantikan wanita itu. Tapi hari ini segala kesepian dan kerinduannya akan terbayarkan. Ia akan melamar wanita itu dan memintanya untuk menemani dirinya tinggal di Amsterdam.
Daimbil kunci mobilnya. Pria itu pun meluncur dalam mobil yang membawanya ke Bandara untuk menjemput kekasihnya.





Langit semburat ungu pada sore itu.
Tampak helicopter sedang berputar-putar beberapa ratus meter diatas hutan tepat di lokasi jatuhnya pesawat Boeing 747 dengan tujuan Amsterdam. Pesawat tersebut dikabarkan telah jatuh di hutan tersebut sekitar setengah jam yang lalu.
Di dalam hutan, puluhan anggota Tim SAR berusaha mengevakuasi para korban bersama dengan serpihan-serpihan bagian badan pesawat yang sudah tidak berbentuk lagi. Pesawat itu memang telah hancur berkeping-keping seperti jatuhnya butiran air hujan yang langsung berserakan ketika terhempas di tanah.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata,”Tidak mungkin lagi ada korban yang selamat!”

Lebak Bulus, 15 Juli 2000


** Cerita ‘Di Dermaga Tua’ ini sebenarnya dibuat pada bulan February 1997. Dan ditulis ulang kembali dengan setting yang sama dan latar Belakang cerita yang sama, hanya ending nya saja yang agak sedikit berbeda.

** Masuk dalam Cerpen Majalah Femina no. 38 tahun 2000



Sebuah Epilog tentang Sepotong Cinta

Terinspirasi oleh Novel Seno Gumira Adjidarma, Jazz Parfum dan Insiden, juga terinspirasi oleh lagu-lagunya George Michael ; Spinning The Whell dan Older, maka lahirlah cerpen ku mengenai sepotong kehidupan cinta dari seorang wanita yang mencari sepotong lagi. Mungkin karena cerpen ini cukup inspiratif bagi seorang teman lama yang kemudian menyadur ide ceritaku dengan judul Sepotong Malam.
Mungkin sewaktu membuat cerpen ini aku masih belum tahu mengapa aku membuat judulnya tentang sepotong cinta saja? Tidak dua potong cinta, agar nanti kedua hati itu bisa menyatu? Karena waktu itu memang Cuma ada sepotong saja barangkali. Sepotong saja yang dalam hatiku, dan aku mungkin tak juga berminat mencari yang sepotongnya lagi…
Ironisnya, dalam perjalanan hidupku sempat ada beberapa potong lagi yang kutemukan dan waktu itu kupikir mungkin saja bisa menjadi sepotong lagi yang akan menjadi bagian dariku.
Dan setelah tahun tahun berlalu, aku mendengar sebuah lagu baru The Other Half - Toshinobu Kubota, dan akhirnya pun aku menyadari tentang my other half ini…dan berpikir tentangnya. Mungkin kali ini aku dapat bertemu dengan sisa potongannya.
Oh ya.. tentu saja cerpen ini tidak akan kupersembahkan kepadanya, karena aku tidak suka dengan endingnya. Mungkin lebih tepatnya cerpen ini akan kupersembahkan saja buat seorang teman lama yang dahulu pernah menjadi teman baikku dan dia pun menyadur cerpenku ini dengan judul Sepotong Malam.

Bekasi, 23 Juli 2010
Epilog ini dituis 13 tahun sesudah aku membuat cerpen ini


SEPOTONG CINTA
By: Fransisca.S

Part One

Di luar jendela kafe, langit mulai temaram. Senja memuntahkan warna ungunya yang kelam ke bumi. Ditenggaknya whisky cola di depan mejanya, lalu dengan pandangan sinis menatap tajam pria yang duduk di depannya.
“Maaf, aku sedang tidak butuh nasihat.”
“Aku tidak sedang….” Bahkan pria itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Apalagi darimu.”
Pria di depannya hanya dapat menghempaskan napasnya pelan, kemudian menggelangkan pelan kepalanya, mencoba untuk mengerti apa yang ada di kepala wanita itu.
“Bukan menasehati sebenarnya.”
“Lantas? Sebuah hiburan dari seorang teman?”
“Tidak jugalah!” sanggah pria itu.
“Jadi apa maksud kata-katamu tadi?”
Pria itu setengah putus asa sambil mengangkat bahunya pelan, “Kira-kira kamu masih mau mendengarkan?”
Wanita itu kini menopang dagu dengan tangannya. Matanya tidak menatap pria yang ada di hadapannya namun menerawang keluar jendela menatap sisa-sisa senja, kemudian mengangguk sambil mengangkat gelas dan kembali menenggak whisky cola nya, dan mengangkat bahunya pelan,”whatever lah…”
“Jangan terlalu sinis dengan hidup. Biarkan saja semua mengalir apa adanya. Aku yakin kamu masih punya rasa tentang berbagai perasaan bahagia dalam hidup bukan?”
Bah! Sekarang bicara tentang perasaan dia, pikir wanita itu. Wanita itu tertawa, dengan sinis tentunya.
“Halah! Perasaan! Perasaan lagi yang kita bicarakan disini. Bisa lebih spesifik bicara tentang perasaan bahagia itu yang seperti apa ya?”
“Perasaan cinta misalnya?”
Wanita itu menggeleng gelengkan kepalanya,”Bagaimana pula di zaman sekarang ini masih saja ada orang yang percaya dengan cinta. Lantas kenapa pula aku harus percaya dengan cinta ya?”
Pria di depannya mengernyitkan dahinya,”Kenapa tidak? Bukankah kita juga dilahirkan atas dasar cinta?”
Mata wanita itu memandang jauh ke luar jendela yang kini hanya menyisakan warna jingga keemasan yang mulai pudar karena malam.
“Jangan selalu mengatasnamakan cinta. Begini karena cinta, lantas kalau begitu juga karena cinta, sampai-sampai membunuh pun bisa dibilang karena cinta.”
“Setidaknya cinta itu ada, dan bisa dirasakan bukan? Manusia manapun yang hidup di dunia ini pastinya pernah mengalami cinta, karena dia sendiri lahir karena buah cinta. Tidakkah kamu sadari itu?”
“Hmmmm…. Cinta itu abstrak. Tergantung bagaimana merasakannya!”
“Tidak juga.”
“Oke, definisikan apa itu cinta kalau bisa,” tantang wanita itu.
“Cinta itu tidak bisa didefinisikan sayang, hanya bisa dirasakan.”
Wanita itu tersenyum puas,”Aha…. Lihatkan? Kamu tidak bisa mendefiniskan cinta bukan pada dasarnya? Tapi aku bisa! Mau tau tentang cinta? Cinta itu ilusi yang tiada duanya. Pada suatu masa di suatu tempat, ada dua orang yang bertemu dan saling mencocok-cocokkan diri, mungkin dengan alasan kesepian, walaupun mungkin saja mereka sebenarnya tidak cocok. Katanya sih mereka sedang jatuh cinta. Dan sesaat hidup pun menjadi indah! Lalu apa? Akhirnya mereka menikah karena orang-orang pada menikah. Mereka punya anak karena yang lainnya punya anak. Kemudian timbul kebosanan, dan cinta pun mulai retak katannya…. Selalu begitu ceritanya ya? Mengapa harus begitu?”
“Lho… mengapa tidak? Kecuali pada bagian akhirnya. Tidak harus selalu begitu bukan?”
Mata wanita itu menyipit menatap tajam pada pria di depannya.
“Kita tidak bisa harus selalu melakukan sesuatu karena orang-orang lain melakukannya. Kita tidak bisa hidup hanya dari pola hidup orang-orang yang memandang sesuatu yang tidak lazim itu sebagai sesuatu yang aneh. Tahu tidak? Kita sebenarnya tidak pernah sekalipun yakin untuk melakukan sesuatu. Kita hanya melakukan apa yang telah dilakukan orang-orang di sekitar kita, lantas apabila kita tidak melakukannya kita akan di cap aneh oleh masyarakat.”
“Uh… kamu mulai mabuk,” kata pria itu sambil menahan tangan wanita itu menenggak whisky cola nya.
“Mungkin aku sedang mabuk. Namun sekalipun aku tidak mabuk, toh akan tetap mengatakan hal yang sama. Dan aku cukup sadar dengan ucapanku kok.”
“Kamu sudah benar-benar mabuk sayang.”
“Ah… mau tau pendapatku tentang cinta? Cinta itu bullshit”
Lalu malam pun beranjak semakin kelam. Di luar jendela, warna warni cahaya neon bercampur dengan pendar lampu biilboard mulai menghiasi malam. Suasana di kafe mulai ramai dengan pengunjung yang baru pulang dari rutinitas sehari-harinya. Mereka ngobrol diiringi dentingan piano lembut dan nyanyian sendu namun merdu seorang wanita di panggung. Sesekali terdengar dering handphone diantaranya. Seorang eksekutif wanita yang masih menerima telpon dari bossnya, seorang pria yang sudah ditelpon – telpon istrinya dan menyuruhnya segera pulang.
Kucari sepotong cinta yang dulu pernah singgah di hatiku
Kucari kemana-mana, tapi tak pernah lagi kutemukan.
Dimanakan cinta?
Aku hanya butuh sepotong saja….
Wanita itu kembali menatap keluar jendela, ditengah tengah keramaian malam. Pria di depannya hanya bisa menatapnya dalam diam. Betapa pria itu mengagumi wajah cantik di depannya. Lihat saja rambutnya yang panjang lurus itu tergerai indah di bahunya. Mata yang bening, hitam dan dalam yang bisa saja membuat pria yang menatapnya menjadi jatuh cinta termehek mehek padanya. Tapi begitu dinginkah sorot mata itu? Matanya itu bagaikan gunung es yang tinggi menjulang di mega-mega putih.
“Tentang pria mu itu lagi kan?” pancing pria itu.
Kali ini wanita itu memandang pria di depannya menyipit dengan pandangan kejam,”Apa pedulimu sih sebenarnya?”
“Ayolah… kamu tahu aku peduli padamu. Kita pernah sangat dekat sayang.”
“Hah? Dekat? Betemu saja jarang!”
“Kamu yang selalu menghindariku.”
“Baiklah, mungkin kamu peduli padaku. Tapi apa yang bisa kamu lakukan untukku? Bisa saja kuceritakan seluruh masalahku padamu. Lantas apa? Apakah masalahku bisa selesai hanya dengan menceritakannya kepadamu?”
“Setidaknya kamu merasa lega. Dan aku juga pendengar yang baik kok.”
“Apa pengaruhnya buatku? Toh masalahku tetap ada. Masalah itu tak mungkin hilang hanya dengan bercerita kepadamu.”
“Mungkin aku bisa memberikan saran dan mencarikan jalan keluar untukmu?”
“Misalnya menasehatiku? Aduh… Bukankah tadi sudah kukatakan kalau aku sedang tidak membutuhkan nasehat bukan? Hidupku memang sudah seperti ini. Kamu tidak bisa memberi nasehat atau mencarikan jalan keluar untukku sama seperti apabila kamu menasehati orang lain. Bagaimana mungkin? Mengerti tentang aku pun kamu tidak. Apa yang kamu ketahui tentang aku?”
“Jangan terlalu menutup diri seperti itu sayang. Setidaknya biarlah orang-orang yang peduli padamu bisa mengerti tentang dirimu. Mungkin kamu tidak sadar bahwa banyak yang benar-benar peduli padamu.”
“Apakah benar seperti itu? Kuberi dia waktu selama 4 tahun untuk bisa mengerti tentang diriku. Dan mau tahu pendapatku? Sayangnya lagi-lagi aku harus bilang bullshit.”
Lantas wanita itu tersenyum sinis lagi, entah untuk yang keberapa kalinya.
“Aku tidak bisa diam saja melihatmu berjalan menuju kehancuranmu sendiri. Kamu muda dan cantik. Tapi lihatlah apa yang telah kamu lakukan. Kamu baru saja menolak pekerjaan dengan gaji besar, lalu kamu menolak menikah dengannya. Sadarkah bahwa apa yang kamu lakukan tidak pernah benar-benar serius?”
“Itulah yang dinamakan standard hidup orang pada umumnya. Tidakkah kamu juga sadar, bahwa aku sudah cukup dewasa untuk menolak melakukan sesuatu karena orang lain melakukannya. Malah aku terlalu serius dengan hidupku. Aku sudah melaksanakan seluruh kewajibanku sebagai manusia. Aku sudah menyelesaikan sekolahku dengan baik, dan aku juga sudah menghasilkan uang. Aku Cuma hanya ingin hidup seperti ini. Mengapa banyak yang mengatakan aneh? Apa salahnya menjadi penulis dan pemusik? Mereka bekerja di siang hari dan aku di malam hari. Mengapa itu dikatakan aneh? Mau kewajiban yang seperti apa lagi?”
“Kewajiban menjalankan hidup dengan normal, dan sesuai dengan kodratnya.”
“Waduh, dipandang dari sudut mana? Bagaimana kalau aku memandangnya dari suatu sudut dimana kewajiban itu nanti hanya berupa rutinitas-rutinitas biasa dan malah membosankan? Bangun pagi, pergi kerja, pulang, mengurus anak dan tidur, begitulah yang terus terusan terjadi seperti itu. Aku hanya ingin membiarkan apa yang kuinginkan dalam hidup berjalan sebagaimana apa adanya.”
“Apa itu?”
“Kebebasan.”
Satu kata itu meluncur dari bibir tipisnya berbalut warna merah tua lipstick.
“Tapi ternyata kamu mencintainya juga kan?”
“Semua itu pilihan. Aku mencintainya dan aku juga mencintai kebebasanku. Aku hanya merasa kehilangan hidupku bila harus bersamanya. Dilema bukan? Apa yang harus kupilih? Kebebasanku atau dirinya? Aku mencintai keduanya. Lantas bagaimana aku bisa percaya dengan cinta, kalau cinta itu sendiri mengacaukan keadaan?”
“Mengapa harus dibuat kacau?”
“Kalau aku memilihnya, maka aku akan kehilangan kebebasanku dan kehilangan hidupku. Lantas aku pun mulai berpikir tentang komitmen-komitmen yang tidak bisa aku penuhi mungkin. Dan bila aku memilih kebebasanku, maka aku akan kehilangannya cepat atau lambat.”
“Hmmmm… mungkin aku mulai bisa mengerti sekarang,” kata pria itu sambil beranjak dari tempat duduknya.
Wanita itu tampak heran, namun mencoba bersikap biasa saja,”Mau kemana?”
“Aku harus pulang. Istriku menunggu dirumah. Sudah jam delapan sekarang.”
“Whatever!” kata wanita itu sambil melambaikan tangannya pada pria itu.
Beberapa saat kemudian, wanita itu pun melangkahkan kakinya menuju panggung sambil membawa saxophonenya dan mulai memainkannya. Malam yang semakin kelam pun dipenuhi oleh bunyi kering dan serak yang keluar dari saxophone… terkadang seperti menjerit pada malam dan merintih pada kehidupan.


Part Two

Rintihan saxophone itu terdengar sampai ke langit yang penuh dengan bintang, dan dipantulkan menuju ke sebuah apartemen yang kelam dan sendu oleh malam yang semakin larut.
Pria itu terduduk lesu di sofa. Merasa terpuruk disana. Dari jendela di apartemennya di lantai 10, dipandangnya bulan yang tertutup setengah oleh awan tebal. Terlihat jadi begitu redup sinarnya.
Sambil merenung diputar-putarnya cincin di jari manisnya. Betapa mudahnya manusia dipermainkan oleh cinta. Apakah cinta itu memang semu? Walaupun begitu, setidaknya dia masih percaya bahwa cinta itu memang ada. Sepotong cinta selalu terselip di hatinya, dan selalu akan ada di sana. Mungkin perasaan manusialah yang sering berubah-ubah bila mencari cinta, seperti juga hidup yang selalu berubah-ubah. Mungkin semuanya bisa berubah, namun perasaannya pada wanita itu tidak akan pernah berubah Mungkin untuk selamanya. Dirinya akan tetap mencintai wanita itu bagaimana pun keadaannya. Tidak akan berubah sampai kapanpun.
Empat tahun yang panjang telah ia lalui bersama wanita itu. Tapi sampai saat ini pun ia masih tidak pernah benar-benar tahu siapakah sebenarnya wanita yang dicintainya itu? Wanita itu selalu berubah. Disaat ia sudah sangat dengan pasti mengerti bahwa sebenarnya ia orangnya begini atau begitu, lantas wanita itu pun berubah lagi menjadi seseorang yang benar-benar asing baginya. Ada suatu waktu dimana wanita itu menjadi sangat romantic, dan pada suatu jam dan harinya wanita yang dicintainya berubah lagi menjadi orang yang benar-benar asing baginya.
Pada suatu masa yang indah, wanita itu pernah berkata kepadanya,”Sunggung sayang, kalau aku jatuh cinta itu artinya selamanya!”
Pria itu terseyum bahagia,”Masa?” katanya
Lantas pada suatu masa lagi di masa lalu, wanita itu berkata,”Tahu tidak, menurut penelitian, sebenarnya rasa cinta hanya bertahan maksimal satu tahun saja dan selanjutnya hanya rasa sayang saja yang ada.”
“Penelitian? Penelitian apa? Siapa yang menelitinya?” bantah pria itu, mencoba untuk tidak terlalu menanggapinya.
Lantas perdebatanpun rasanya menjadi panjang.
Awalnya memang indah dan mudah. Mereka bertemu di kampus, lalu merasa saling cocok dan berpacaranlah mereka sampai sekarang. Dan selama itu pula pria itu harus memendam perasaan bahwa sebenarnya wanita yang dicintainya adalah seoarang wanita yang misterius sekali, bukan Cuma jalan pikirannya, namun juga hidupnya. Wanita itu tidak pernah sekalipun mengetahui tentang kehidupan pribadi dan dunianya.
Ah, pikir pria itu waktu itu, bukankan cinta itu seharusnya saling berbagi, baik di saat-saat senang maupun susah? Terkadang wanita yang dicintainya bisa diam berhari-hari.
“Sedang banyak pikiran,” kata wanita itu saat pria itu menanyakannya.
“Masalah apa sayang?”
“Sudahlah.”
Akhirnya hanya pertengkaran yang muncul.
Mengapa cinta itu begitu rentan? Pikir pria itu? Dua manusia saling bertemu dan katanya mereka saling sajuh cinta. Mereka berpacaran dan bertengkar. Kemudian mereka berbaikan, lantas bertengkar lagi, bahkan terkadang dengan alasan-alasan yang kurang jelas. Namun bukankah cinta itu memang harus seperti itu? Pertengkaran merupakan bumbu dari percintaan?
Cinta. Cinta. Lagi-lagi cinta. Mengapa harus selalu seperti itu? Apakah mungkin cinta disederhanakan? Dua orang saling jatuh cinta, mencari kecocokan. Kalau tidak cocok memang sebaikya berpisah saja, dan kalau cocok, harusnya bisa lebih serius menuju pernikahan. Sederhana bukan?
“Apa? Menikah?”
“Mengapa tidak?”
“Menikah berarti komitment jangka panjang, mungkin seumur hidup. Apakah kamu siap?” wanita itu bertanya kepadanya dengan raut kebingungan.
“Aku yakin sekali!”
Wanita itu tertunduk lesu,”Maaf, mungkin aku yang masih belum yakin barangkali.”
“Lantas, kapan kamu baru akan yakin sayang?” desak pria itu.
“Entahlah!”
Mungkin pria itu sudah bosan dengan ketidakpastian atas perasaan wanita itu.
“Apakah kamu benar mencintaiku?” Tanya pria itu.
“Aku selalu cinta padamu,” jawab wanita itu mantap.
“Lantas, kita seharusnya menikah saja.”
“Beri aku waktu. Aku akan berusaha menjadi orang yang benar-benar layak kamu cintai dalam hidupmu.”
Ah, wanita itu hanya bermain-main dalam hidupku. Akhirnya pria itu mulai menyadarinya pada suatu saat dan suatu waktu. Dan semuanya pun terulang lagi, pria itu terombang ambing oleh ketidakpastian dan keraguan wanita itu. Mencintai wanita itu seperti sedang memutar roda keberuntungan, bisa menang dan kalah kapan saja. Entah sudah berapa kali pria itu terperosok dalam situasi seperti itu, lagi…. Dan lagi…
Diliriknya jam di pergelangan tangannya. Cukup lama dia merenung malam ini, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Dimanakah wanita itu?
Ditelponnya wanita itu.
Dan seperti biasa, pada malam-malam sebelumnya, wanita itu tidak mengangkatnya.
Pria itu tahu pasti bahwa wanita yang dicintainya belum tidur. Mungkin saat ini wanita itu sedang tampil di panggung dengan saxophone keemasannya. Atau bisa saja wanita itu sedang mengaransemen lagu-lagunya atau mengetik novelnya. Betapa sederhananya hidup wanita itu sebenarnya. Lantas, mengapa pria itu masih tak juga bisa memahaminya? Memahami wanita yang dicintainya? Dia selalu siap dengan semua kebiasaan dan kehidupan wanita itu. Mengapa wanita itu tidak bisa menerimanya?
Apakah itu yang dimaksud dengan ekspresi seni nya y ang bebas? Sebenarnya sudah sering kali ia mengalami hal ini. Suatu saat tiba-tiba saja ia kehilangan wanita yang dicintainya, hilang selama beberapa hari hilang dari rumahnya tidak bisa dihubungi. Dan selang beberapa hari wanita itu tiba-tiba muncul di hadapannya sambil meminta maaf dan merayu, berkata tidak akan terulang lagi. Masalah pun selesai sejenak.
Apakah ini yang dimanakan ekspresi kebebasan dengan mengatasnamakan seni? Bahkan seniman pun seharusnya punya aturan dalam hidup.
“Kita hidup dalam dunia yang punya aturan sayang. Banyak aspek – aspek lain yang harus dipertimbangkan dalam hidup ini, agar nantinya kita tidak melanggar peraturan.”
“Lho, aku kan tidak pernah melanggar peraturan bukan?”
“Tapi aturan hidup hidupmu tidak lazim.”
“Kalau pilihan hidupku memang tidak lazim, atau katakanlah aku tidak berpikiran seperti orang-orang pada umumnya, apakah aku melanggar peraturan? Peraturan yang mana?”
“Tidak! Kamu memang tidak melanggar peraturan. Namun bukankah kamu berinteraksi dengan orang-orang yang berpikiran lazim? Cobalah untuk berpikir seperti orang-orang pada umumnya.”
Nah, itulah mengapa aku tidak pernah ingin kalau orang-orang lain termasuk kamu mengetahui pikiranku yang tidak lazim ini. Tidak aka nada saling pengertian. Tidak ada yang bisa mengerti.”
“Kita harus bisa saling mengerti dan saling berkorban. Tapi kamu memang tidak pernah mau berkorban sama sekali demi kita. Bukankah cinta menuntut pengorbanan?”
“Apa yang harus kukorbankan demi kita sangat besar nilainya sayang. Hidupku! Kebebasanku! Apa yang bisa kudapatkan dari perasaan cintaku padamu? Lantas apa yang sudah kamu korbankan untukku?”
Bila sudah begini, pria itu pun hanya bisa terdiam. Membeku dengan rasa marah. Mau diteruskan? Panjanglah persoalan.
Ah, sudahlah… akhirnya pria itu mencoba terbangun dari harapan dan ilusi tentang cinta yang dipendamnya selama ini. Mungkin dia sudah capek memikirkan hal-hal seperti ini, dan mungkin sudah saatnya untuk pergi dan meneruskan hidupnya. Mengenal wanita itu, rasanya bagaikan mengenai malam. Bukankah kita selalu meraba-raba dalam kegelapan malam?
Betapa aneh hidup kekasihnya itu, merasa lebih hidup saat malam tiba, dan tidur saat pagi menjelang. Pria itu benar-benar merasa sudah capek dengan semua itu. Capek dengan semua keanehan wanita yang dicintainya itu, dan ia bertekad tidak akan melaluinya lagi. Dia tidak akan pernah mau lagi menerima kenyataan itu sebagai bagian dalam hidupnya selama empat tahun ini.
Sudah terlalu lama ia hidup dalam ketakutan akan perasaan cinta yang dimainkan dengan indah oleh wanita yang dicintainya. Mungkin lebih baik ia melewati hari-hari di depan dengan kesepian daripada harus menebak nebak nasibnya di tangan seorang wanita yang mengerti tentang cinta pun tidak.
Cukup sampai disini! Kali ini ia bertekad tidak akan melewati jalan yang sama lagi. Kedewasaan telah menempanya dalam menghadapi hidup ini. Sesuatu yang telah dilaluinya bersama wanita yang dicintainya selama empat tahun terakhir ini membuatnya sadar, betapa asingnya wanita itu baginya, sekalipun ia benar-benar mencintainya. Harusnya sudah dari dulu ia meninggalkan wanita yang dikira dicintainya itu. Sudah banyak ketidakcocokan dan permasalahan yang timbul. Namun apa daya. Bukankah cinta itu buta? Mencintai seseorang tanpa ada alasan yang jelas?
Sudah saatnya dia melepaskan wanita itu dengan segala konsepnya tentang kekebasan. Waktu telah habis. Ia tak lagi sanggup bermain main dengan perasaannya sendiri. Dia harus segera meninggalkan wanita yang dicintainya demi dirinya sendiri dan juga demi wanita itu. Semua akan baik-baik saja, katanya dalam hati untuk meyakinkan dirinya. Wanita itu tak pernah membutuhkan dirinya. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Semua yang telah dilewatinya bersama wanita yang dicintainya selama empat tahun ini hanya buang-buang waktu saja, dan akhirnya membuatnya sadar bahwa sampai kapanpun kebersamaan mereka hanya akan menghasilkan sesuatu yang tidak bertujuan.
Dilepaskannya cincin di jari manisnya. Cincin itu yang pernah mengikat hubungan mereka sebagai tunangan. Dihempaskan napasnya ke udara dengan kesal. Ah, bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada wanita itu pun dia tidak mampu. Dia berjalan menuju keluar pintu. Dipikirkannya lagi langkah putaran nasibnya. Le bih baik dia menerima tawaran pekerjaan di luar kota agar dapat benar-benar menghindari wanita yang dicintainya.
Namun, dalam hatinya pria itu benar-benar sadar bahwa, walau bagaimanapun dia tetap akan mencintai wanita itu. Dan mungkin untuk selamanya.
Dia akan tetap dan selalu mencintai wanita itu, walau dia tidak memiliki kemampuan memaksakan diri agar wanita itu juga mencintai dirinya. Yang kini dapat dilakukannya hanyalah mempersembahkan sepotong cinta untuk wanita itu.
Sepotong Cinta yang selama ini dicari-cari wanita itu di dalam hatinya.
Fransisca Supandi
July 1997

Inspired from : Older & Spinning The Wheel By : George Michael






SI CANTIK
By : Fransisca S(March 1997)

Gadis di depannya benar-benar cantik menawan, menarik hati siapa saja yang memandangnya. Seorang pria berumur tigapuluhan berada di depan sang gadis. Pria itu tak jemu-jemu memandang kecantikan wajahnya dan kemolekan tubuhnya.
“Cantik sekali,” kata pria itu dalam hati.
Pria itu memandang sang gadis itu lekat-lekat, namun gadis itu hanya diam saja tak bergeming, tak ada ekspresi di wajahnya.
Melihat sang gadis yang diam saja, pria itu mulai mengambil tangan sang gadis kemudian mengceupnya mesra. Sang gadis masih tetap diam.
“Ah… rupanya kamu malu yah padaku,” kata si pria itu pada sang gadis sambil mengelus wajah mulusnya.
“Mengapa diam saja?” Tanya si pria merayu.
Gadis tadi masih diam.
“Maukah kamu menjadi pacarku?” tanya si pria menatap nakal pada sang gadis.
Sang gadis diam saja, mengangguk tidak tapi menggelengkan kepalanya juga tidak.
“Kalau diam, artinya setuju dong!” kata si pria itu.
Sang gadis tetap diam.
“Yah… mungkin kamu masih malu kepadaku karena ini pertama kalinya kamu datang ke rumahku… Baiklah, mungkin kamu masih canggung berada di sini, tapi mungkin sebentar lagi kamu akan merasa nyaman berada di sini,” sambung pria itu.
Gadis itu begitu menyenangkan dipandang walaupun mungkin umurnya sudah kepala tiga, namun wajahnya masih seperti gadis yang berusia duapuluhan.
Wajahnya cantik ayu tanpa cacat sedikitpun disana. Coba lihat saja alis matanya yang tebal namun rapi, matanya yang bening, hidungnya yang mancung tapi tidak terkesan tinggi, serta bibirnya yang merah padat berisi. Belum lagi ditambah dengan kemulusan kulit wajahnya yang putih bersih selembut salju.
Rambutnya hitam panjang tergerai sampai ke bahu,
Ah… benar-benar gadis yang sempurna. Pasti begitu pikir orang-orang yang melihatnya. Tidak aka nada yang menyangkalnya.
Bahkan tanpa polesan sedikitpun di wajahnya, gadis itu malah terlihat ebih mulus, cantik dan alamiah.
Si pria itu terus0terusan memandang wajah si gadis. Bukannya risih karena dipandangi terus menerus seperti itu, si gadis malah semakin bungkam seribu basa.
“Ah… kamu benar-benar gadis yang acuh!” kata si pria tiba-tiba.
Suasana menjadi hening di antara si gadis dan si pria itu. Mungkin si pria itu sudah bosan melihat sang gasid yang dari tadi hanya diam saja.
“Katakan dengan sejujur-jujurnya apakah kamu tidak menyukai kencan pertama kita? Atau apakah saya yang membosankanmu sehingga kamu lebih memilih diam daripada berbicara denganku?” Tanya sang pria lagi.
Dan si gadispun terdiam lagi.
“Ah… gadis catik, mengapa kamy diam saja sayang?”
Sang gadis masih diam.
“Sebenarnya kamu gadis yang benar-benar cantik tapi kamu juga benar-benar membosankan! Tida sadarkah kamu ini, bahwa sebenarnya kamu cukup membosankan bagiku bahkan dengan lelaki manapun yang berhadapan denganmu? Percuma saja cantik tapi membosankan!” gerutu si pria mulai kesal.
Dan seperti biasa, sang gadis masih diam tanpa ekspresi menatap lurus ke depan sana, entah apa yang sedang dipikirkannya. Yang jelas gadis itu masih bungkam seribu basa. Dari sejak kedatangannya tak ada satu patah katapun yang mengalir dari bibir seksinya.
“Ah… sepertinya aku mulai bosan denganmu, berada di dekatmu walaupun jantungku berdebar-debar tapi aku tak tahu harus bagaimana menghadapimu!” kata si pria itu mulai marah.
“Ayo katakan mengapa kamu diam saja? Katakan! Katakan!” teriak si pria sambil menggoncang goncangkan tubuh gadis manis itu,”Ayo katakana…. Jangan bungkam saja, beri aku jawabab!”
Si pria tiba-tiba tersentak ketika akhirnya kepala si gadis itu terkulai lemas seakan tak berdaya menghadapi guncangan tangan si pria berulang-ulang.
“Oh… maafkan aku, aku tak bermaksud menyakiti hatimu! Maafkan aku!” kata si pria memohon sambil berlutut pada gadis itu.
Si gadis masih terdiam, tapi kali ini dengan kepala terkulai lemas tak berdaya
Pria itu mengangkat dagu si gadis cantik itu kemudian memandangi wajahnya yang rupawan itu.
“Betapapu aku katakana bosan padamu, tapi engkau benar-benar gadis tercantik yang pernah kutemui seumur hidupku,” bisik sang pria setengah menyesal
Pandangan sang gadis masih kosong dan bibirnya pun masih terkunci dengan rapatnya.
‘Ting tong’ buyi bel pintu membangunkan si pria itu dalam kesedihannya bersama gadis cantiknya.
“Maaf sayang, ada bisnis yang harus kuurus terlebih dahulu tapi setelahnya aku akan kembali lagi bersamamu menemanimu walaupun engkau masih bungkam,” kata sang pria sambil mengecup kening gadis cantiknya.
Seketika pria itu melesat pergi.
Kepala si gadis manis itu kembali terkulai.


“Ah…betapa indah wajahnya,” kata sang pria sambil menatap kagum pada gadis berumur belasan tahun yang terbujur kaku di dalam peti mati.
“Lihatlah sayang… ternyata masih ada gadis manis lainnya yang leih cantik darimu. Jangan kau kira hanya kamu satu-satnya yang paling ay disini,” sambung sang pria itu sambil menatap angkuh pada gadis cantik yang masih duduk disana dengan kepala terkulai lemas tak berdaya.
“Wajahnya masih hangat!” ucap sang pria ketika tangannya menyentuh wajah gaids belasan tahun itu.
Diambilnya sponge bedak serta peralatan kosmetik lainnya, kemudian ia [un mulai merias wajah gadis yang masih segar dan kencang itu.
Dalam sekejab ia sudah menyelesaikan hasil karyanya.
Ditatapnya gadis manis belasan tahun ini dengan penuh kekaguman.
“Nah, kini saatnya unuk mengembalikanmu ke asalnya, karena ternyata aku sudah punya teman kencan baru yag lebih manis darimu,” kata sang pria sambil menggendong gadis cantik yang masih duduk terdiam dengan kepala terkulai lemas kemudian memasukkannya ke dalam peti mati.
Kring… kring…
Bunyi telepon bordering di ruangan itu.
“Hallo,” sambut sang pria ketika mengangkat telepon.
“…….” Sebuah suara balasan telepon dari ujung sana
“Maaf, saya turut berduka cita,” kata sang pria terperanjat.
“…….”
“Kapan upacara pemakamannya berlangsung?”
“……”
“Kalau bisa secepat mungkin jenasahnya dikirimkan kepada saya, semakin cepat dirias, semakain baik.”

MARET 1997
CERPEN FRANSISCA SUPANDI
Diinspirasikan dari lagu So Beautiful – Simply Red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar